Kelas
: XI IPA
Oleh:
-
RIZKI DOKEN
-
RISKI DANU
-
IQBAL TOK
PEMBIMBING
-
TAUFIQ RIDHO CS.
KATA
PENGANTAR
Om Svastyastu
Puji dan syukur kita panjatkan kehadiran Hyang Widi atas Asung
Waranugraha yang telah diberikan kepada kita semua. Penyusun sangat bersyukur
kepada-Nya karena dalam penulisan makalah ini dapat berjalan lancar dan selesai
tepat pada waktunya. Dalam makalah ini sengaja kami mengangkat judul Peranan permainan tradisional dalam
pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses
seseorang untuk memperbaiki sikap, atau mengubah tingkah laku melalui ajaran
dan latihan secara perlahan-lahan.Teknologi saat ini sangat berperan penting
dalam dunia pendidikan, contohnya sebagai penunjang proses pembelajaran di
sekolah. Tapi sayangnya teknologi di dunia Pendidikan di Indonesia masih kurang
mendapatkan perhatian yang khusus dari pemerintah daerah atau pusat, khususnya
pada daerah daerah yang terisolir.
Dengan kerendahan hati kami mengucapkan terima
kasih terhadap semua pihak yang telah membantu. Jika dalam penulisan makalah
ini ada kesalahan, kami mohon maaf yang setulus-tulusnya, karena kesalahan ini
bukan disengaja, tetapi karena ketidaktahuan dan kekurangan dari kami.
Bandung, November 2015
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar adalah suatu proses belajar yang kompleks yang
terjadi pada diri setiap orang yang hidup. Proses belajar itu terjadi karena
adanya interaksi antara manusia dengan lingkunganya.oleh karena itu belajar
dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.salah satu tanda bahwa seseorang itu
telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang tersebutyang
mungkin terjadi oleh perubahan pada pengetahuan,keterampilan atau sikap.
Apabila proses belajar itu di selenggarakan secara formal di sekolah-sekolah.
Tidak lai ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa. Baik dalam
aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap.selama proses belajar tersebut di
pengaruhi oleh lingkungan yang antar alain yaitu:trdiri atas muted, guru,
dan staf sekolah lainnya.serta bahan maeri lainyaperkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi semakin mendorong pembaharuan dalam proses pembelajaran
Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh
tingginya pendidikan seorang pendidik. Tersedianya sarana dan prasarana
pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Keterbatasan
sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan yang ada di
lingkungan sekitar. Permainan tradisional daerah juga memiliki potensi besar
untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran Pembelajaran di Sekolah diharapkan tidak
hanya bersifat teoritik tetapi juga dapat mengenalkan media pembelajaran dengan
menggunakan permainan tradisonal, karena dalam permaianan tradisional mempunyai
nilai nilai pengetahuan yang seharusnya dilestarikan oleh guru, sekalipun pada
kenyataannya permainan tradisional sedikit demi sedikit ditinggalkan, permainan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Permainan Tradisional
Permainan tradisonal merupakan
simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam
fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap
merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap
menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan.
Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat
dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.
Permaianan digunakan sebagai istilah luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan
prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai
dengan usia anak. Menurut Pellegrini dalam Naville Bennet bahwa permainan
didefinisikan menurut tiga matra sebagai berikut: (1) Permainan sebagai
kecendrungan, (2) Permainan sebagai konteks, dan (3) Permainan sebagai prilaku
yang dapat diamati.
Menurut Mulyadi bermain secara umum sering dikaitkan dengan
kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan yang terdapat lima pengertian
bermain; (1) sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak
(2) tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik (3)
bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih
oleh anak serta melibatkan peran aktif keikutsertaan anak, dan (4) memiliki
hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti
kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial.
Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan
yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya,
di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak.Dengan
demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena
tujuannya sebagai media permainan.Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan
aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan
menuju dunia orang dewasa.
B. Permainan Tradisional dan Perkembangannya
Permainan tradisional anak adalah salah satu bentuk folklore
yang berupa yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif
tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun, serta banyak
mempunyai variasi. Oleh karena termasuk folklore, maka sifat atau ciri
dari permainan tradisional anak sudah tua usianya, tidak diketahui
asal-usulnya, siapa penciptanya dan dari mana asalnya. Permainan tradisional
biasanya disebarkan dari mulut ke mulut dan kadangkadang mengalami perubahan
nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Jika dilihat dari akar
katanya, permainan tradisional tidak lain adalah kegiatan yang diatur
oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari
generasi terdahulu yang dilakukan manusia (anak-anak) dengan tujuan
mendapat kegembiraan (James Danandjaja dalam Misbach, 2007).
Menurut Sukirman (2004), permainan tradisional anak merupakan unsur
kebudayaan, karena mampu memberi pengaruh terhadap perkembangan kejiwaan,
sifat, dan kehidupan sosial anak. Permainan tradisional anak ini juga
dianggap sebagai salah satu unsur kebudayaan yang memberi ciri khas
pada suatu kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, permainan tradisional
merupakan aset budaya, yaitu modal bagi suatu masyarakat untuk mempertahankan
eksistensi dan identitasnya di tengah masyarakat lain. Permainan
tradisonal bisa bertahan atau dipertahankan karena pada umumnya
mengandung unsur-unsur budaya dan nilai-nilai moral yang tinggi, seperti:
kejujuran, kecakapan, solidaritas, kesatuan dan persatuan, keterampilan dan
keberanian. Sehingga, dapat pula dikatakan bahwa permainan tradisional dapat
dijadikan alat pembinaan nilai budaya pembangunan kebudayaan nasional
Indonesia. (Depdikbud, 1996). Keberadaan permainan tradisional, semakin hari
semakin tergeser dengan adanya permainan modern, seperti video game dan virtual
game lainnya. Kehadiran teknologi pada permainan, di satu pihak mungkin dapat
menstimulasi perkembangan kognitif anak, namun di sisi lain, permainan ini
dapat mengkerdilkan potensi anak untuk berkembang pada aspek lain, dan mungkin
tidak disadari hal tersebut justru menggiring anak untuk mengasingkan diri dari
7 lingkungannya, bahkan cenderung bertindak kekerasan.
C.
Jenis-jenis
Permainan Tradisional
Banyak sekali macam-macam permainan tradisional di
Indonesia, hampir di seluruh daerah-daerah telah mengenalnya bahkan pernah
mengalami masa-masa bermain permainan tradisional ketika kecil. Permainan
tradisional perlu dikembangkan lagi karena mengandung banyak unsur manfaat dan
persiapan bagi anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh
permainan tradisional akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1.
Galasin
Galah asin atau galasin yang juga sibeut gobak sodor adalah
sejenis permainan daerah asli dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah
permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri
dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa
lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih
kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses
bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
2.
Congklak
Congklak adalah suatu jenis permainan tradisional yang
dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Biasanya dalam
permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika
tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Di malaysia permainan ini juga lebih dikenal dengan nama
congklak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan
kebudayaan melayu. Di jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama dakon.
Selain itu di lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban
sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama mokaotan,
maggaleceng, aggalacang dan nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini
disebut mancala.
3.
Petak Umpet
Permainan ini bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun
jika semakin banyak yang bermain maka akan menjadi semakin seru. Cara bermain
cukup mudah, dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi
"kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi).
Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung
sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak
melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan
yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di jakarta ada yang
menyebutnya inglo, di daerah lain menyebutnya bon dan ada juga yang menamai
tempat itu hong). Setelah hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati
bersama, misalnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi
15 atau 20) dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si
"kucing" beraksi mencari teman-temannya tersebut.
4.
Gasing
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan
berkeseimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan
di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan
anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan
nasib. Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari
plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian
badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing
tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda
bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya
berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki
(paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak
untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit
demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan
tanah.
5.
Kelereng
Kelereng (atau dalam bahasa jawa disebut nèkeran) adalah
mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate.
Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke
ujung. Kelereng dapat dimainkan sebagai permainan anak, dan kadang dikoleksi,
untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.
6.
Egrang
Egrang atau jangkungan adalah galah atau tongkat yang
digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah.
Egrang berjalan adalah egrang yang diperlengkapi dengan tangga sebagai tempat
berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan
selama naik di atas ketinggian normal. Di dataran banjir maupun pantai atau
tanah labil, bangunan sering dibuat di atas jangkungan untuk melindungi agar
tidak rusak oleh air, gelombang, atau tanah yang bergeser. Jangkungan telah
dibuat selama ratusan tahun[3].
3.3.1
Dampak Positif Dan Negatif Permainan Tradisional
Kemajuan teknologi telah membawa perubahan dalam berbagai hal termasuk dalam
hal bermain. Perubahan dalam bermain ini lebih mengacu pada game modern seperti
yang digemari anak-anak zaman sekarang. Seiring perubahan tersebut ada dua
dampak pada game modern, yaitu:
1) Dampak Positif
a)
Dalam game modern, menang atau kalah tidak menimbulkan perselisihan. Akan
tetapi, dalam permainan tradisional yang lawan mainnya nyata dapat menimbulkan
perselisihan, karena rasa ini lawan yang kalah pada lawan yang menang.
b)
Game modern mampu membuat anak berpikir kreatif karena game yang ada sangat
beragam.
c)
Game modern dapat membuat pemainnya meningkatkan daya imajinasi dan
kreativitas dalam menyelesaikan permainan.
2) Dampak Negatif
a)
Seorang anak yang sudah ketergantungan pada game modern, akan menimbulkan
kurangnya rasa peduli pada sekitar.
b)
Perubahan perilaku.
c)
Berkurangnya sikap bekerja sama dan rasa saling berbagi.
d)
Menimbulkkan kerusakan pada mata karena terpaku berjam-jam pada layar.
Dari pernyataan diatas, ada beberapa solusi untuk mengatasi
masalah tersebut agar permainan tradisional tidak hilang dan atau tidak
tergusur oleh game modern yaitu, pelestarian permainan tradisional dalam dunia
pendidikan, melalui pelajaran sekolah, misalnya: pendidikan olah raga. Guru
dapat memadukan permainan tradisional dengan materi lainnya. Juga penerapan
permainan tradisional dengan cara mengadakan perlombaan baik di dunia
pendidikan maupun dunia luar.Kemajuan teknologi telah membawa perubahan dalam
berbagai hal termasuk dalam hal bermain. Perubahan dalam bermain ini lebih
mengacu pada game modern seperti yang digemari anak-anak zaman sekarang.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Permainan tradisional tidak hanya
sekedar permainan yang mengandung kesenangan semata. Namun permainan tradisional
dapat melatih kemampuan motorik anak, sikap anak, dan juga ketrampilan anak.
Serta dapat membentuk karakter anak yang luhur.
Dalam menerima sikap perubahan sosial didalam masyrakat kita memang harus
bersifat terbuka dan dinamis terhadapa perkembangan zaman, perkembangan dunia
IT. Ada sebuah garis-garis yang harus memisahkan kebudayaan asli dengan
masuknya kebudayaan luar dalam era global saat ini. Perubahan sosial akan
terjadi apabila masyarakat menerima masuknya perubahan itu sendiri, maka dari
itu kita perlu yang namanya kesadaran sejak dini untuk menjaga dan melstarikan
kebudayaan lokal masyarakat kita sendiri, kalau bukan kita yang menjaga
kebudayaan tersebut, siapa lagi dan tidak akan menutup kemungkinan memudarnya
permainan tradisional, sebagai salah satu contoh penulisan diatas, dapat
terjadi bila kita sendiri tidak memelihara kebudayaan kita sendiri.
2.
Saran
Kita sebagai generasi
muda sudah saatnya kita melestarikan permainan tradisional. Kita seharusnya
perkenalkan dulu pada anak kita tentang permainan tradisional walaupun di zaman
globalisasi saat ini. Karena pada usia dini, perkembangan anak sangat dibutuh
demi perkembangan fisik dan motorik anak. Selain iti permainan tradisional
sangat menguntungkan daripada permainan di zaman sekarang seperti game online.
Game online sangat tidak baik bagi perkembangan anak karena akan membawa dampak
negative bagi seorang anak. Tidak dipungkiri saat ini banyak orang tua yang
malah membelikan anaknya barang-barang canggih. Maka dari itu , peran orang tua
untuk mendampingi anaknya sangatlah penting demi masa depan seorang anak.